Jumat, 16 Desember 2022

Tidak Ada Bukti Main Games Dan Brain-Games Bikin Anda Lebih Cerdas

LiatAjaJika Anda masuk ke bagian aplikasi game di PlayStore atau AppStore, Anda mungkin sudah terbiasa melihat daftar puluhan 'game asah otak' atau game yang konon bisa melatih otak menjadi lebih pintar.

Bahkan, ada pengembang perangkat lunak yang mengklaim bahwa aplikasi atau game mereka dapat meningkatkan memori, perhatian, dan fokus pengguna.


Pertanyaannya, apakah permainan asah otak seperti ini benar-benar membantu membuat seseorang menjadi lebih pintar dan hebat?
 
Konsepnya sama dengan berolahraga. Jika Anda melakukan squat misalnya setiap hari, Anda hanya akan membentuk otot di bagian kaki saja. Latihan ini tidak banyak membantu otot di area lain. Juga tidak akan meningkatkan tingkat kebugaran Anda secara keseluruhan.

Hal yang sama berlaku untuk otak. Beberapa permainan dapat membantu melatih untuk tujuan tertentu tetapi tidak akan memberikan efek peningkatan pada keseluruhan sistem saraf secara umum.

Menurut ahli saraf kognitif, Profesor Michael Thomas dari University of London menjelaskan bahwa memang ada perubahan yang terjadi di otak setiap kali Anda menjadi ahli dalam putaran permainan. Namun, itu hanya akan membuat Anda lebih efisien dalam tugas-tugas tertentu dan tidak akan menjadikan Anda sarjana.

Ada game yang membantu kita mengenali dan menghafal bendera negara-negara di dunia misalnya. Jika Anda berusaha dan berlatih keras, Anda mungkin dapat mengingat warna dan tampilan setiap bendera. Namun, di saat yang sama, Anda masih kesulitan mengingat daftar kebutuhan dapur yang harus dibeli. Jadi, ini membuktikan bahwa permainan otak hanya meningkatkan kinerja Anda dalam permainan dan bukan hal lain. Pernyataan ini juga diamini oleh Profesor Robert Sternberg dari Cornell University.

Beberapa studi metasains baru-baru ini menyimpulkan bahwa tidak ada bukti bahwa permainan otak ini dapat membantu mempertahankan fungsi otak pada orang dewasa paruh baya. Studi-studi ini juga tidak dapat menentukan apakah pelatihan otak dapat mencegah demensia pada individu yang sudah memiliki masalah kecil dengan kognisi.

Kualitas penelitian terkait brain games yang ada saat ini sebenarnya tidak terlalu lengkap dan tidak bisa memberikan kesimpulan yang bisa diharapkan. Di sisi lain, temuan dan bukti yang mengaitkan pendidikan formal dengan tingkat kecerdasan jauh lebih kuat dan dapat diandalkan.

Bagaimana dengan video game?

Nachshon Meiran, seorang ahli ilmu kognitif dari Ben Gurion University of the Negev menjelaskan bahwa ada beberapa kontroversi dan perbedaan pendapat dalam bidang studi yang ia geluti karena ada juga beberapa laporan yang menyatakan bahwa permainan untuk otak ini juga bermanfaat sebagai subjek publikasi jurnal yang sesuai.

Salah satu contoh yang menarik perhatian media beberapa tahun lalu adalah penelitian tentang video game. Pada tahun 2013, sebuah penelitian menemukan bahwa bermain video game selama 12 jam dapat meningkatkan kemampuan membaca pada anak disleksia dengan meningkatkan perhatian visual dan kemampuan untuk memperoleh informasi yang bermakna dari lingkungan.

Hasil penelitian menemukan bahwa membaca anak menjadi lebih cepat tanpa mengorbankan ketepatan membaca. Bahkan, kelompok penelitian tersebut juga melaporkan bahwa video game dapat mencegah disleksia sebelum berkembang. Pada 2017, mereka menerbitkan penelitian yang memiliki temuan serupa dengan penelitian sebelumnya tetapi menggunakan anak-anak berbahasa Inggris sebagai subjek penelitian.

Namun, sebelum Anda membiarkan anak Anda menghabiskan banyak waktu di depan layar, Anda perlu tahu bahwa kami tidak dapat sepenuhnya berpegang pada temuan penelitian. Pasalnya, penelitian tersebut hanya membandingkan anak-anak yang memutar video aksi dengan yang non-aksi. Dengan demikian, banyak peneliti lain yang keberatan mengatakan bahwa penelitian tersebut tidak memiliki standar yang diperlukan dan seharusnya menguji keefektifan permainan ini dibandingkan dengan pengobatan psikoterapi tatap muka.

Tidak ada studi berkualitas tinggi

Hingga saat ini, masih belum ada penelitian yang benar-benar berkualitas tentang permainan otak. Sebagian besar penelitian yang dilakukan hanya menggunakan sejumlah kecil subjek, generalisasi yang dipertanyakan, pelaporan yang buruk, dan kurangnya validasi independen.

Meski perusahaan yang memproduksi aplikasi dan game ini dengan bangga mengklaim produk mereka didukung oleh ilmu saraf, Prof. Thomas masih skeptis. Menurutnya, tudingan itu hanya akal-akalan untuk menutup mata agar pelanggan merasa lebih tertarik.

Tidak dipungkiri juga terdapat nilai-nilai yang bermanfaat dari permainan asah otak seperti memberikan rasa keberdayaan selain mendapatkan kepuasan. Risiko yang menimbulkan bahaya juga rendah. Namun, jika Anda terlalu banyak menghabiskan waktu untuk bermain permainan asah otak ini, Anda bisa kehilangan kesempatan untuk melakukan aktivitas yang benar-benar dapat membantu meningkatkan kecerdasan otak seperti berolahraga, melakukan aktivitas fisik, menghafal Al-Quran, mengerjakan tugas sekolah dan lain sebagainya.

Singkatnya, Anda memang hanya perlu tetap aktif secara mental, fisik, dan sosial untuk menjaga kesehatan otak secara umum. Jangan terlalu mengandalkan permainan otak untuk membantu meningkatkan IQ Anda dan membuat Anda lebih pintar. Hanya bermain untuk bersenang-senang, tidak masalah.

LiatAja | Sumber: 

Advertiser